Sejarah Terbentuk Kampung (Desa) Marfenfen dan Pemerintahan
Gambaran umum sejarah terbentuk Natapen (kampung) Marfenfen. Bermula dari perjalanan panjang leluhur marga Tildjuir, Botmonamona, Bothmir dan Gaelagoy. Hingga sampai ± Tahun 1897 ke empat marga dipertemukan oleh Controiler Alekxander Johan De Qlou membentuk Pemerintahan Kampung di MALA MALA REI DI guna memudahkan kepentingan pemungutan pajak bagi kepentingan pemerintah kolonial Belanda.
Berikut ini kisah perjalanan empat (4) marga pembentuk kampung (desa) Marfenfen dan pemerintahan;
1.1 Sejarah Singkat Perjalanan Marga Tildjuir
Menurut mitologi marga Tildjuir, leluhurnya berlayar menggunakan Sabir Baraipuy dari Babel lalu tiba di Gudor Apara (bagian barat Batugoyang-Kepulauan Aru) sempat menetap beberapa waktu, kemudian berpindah ke Badel Gujon Tafermar (kini desa Dosimar). Ditempat ini para leluhur menetap cukup lama. Makanan kesukaan mereka yaitu Buah Raja dan sering tidur beralaskan Karata Ratai Tutdi (dedaunan kering), makanya mereka menamai komunitas Karatem. Lantaran peristiwa Tarou Teide Dartom membuat kebersamaan klan retak. Separoh menetap, sebagian berlayar mengendarai Sabir Baraipuy ke arah barat lalu tiba di Garia Tel Tel (Suatu tempat di selat Maekor). Ditempat ini pendahulu Tildjuir/orang Karatem sempat menetap beberapa waku, kemudian melanjutkan pelayaran hingga tiba di Kobraur Sel (kini desa Kobraur) namun hanya beberapa saat saja. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan ke Gamar Garia (Pulau Wamar-Dobo) hingga berdiam cukup lama sampai suatu waktu para leluhur ini memutuskan salah seorang tinggal menetap di sekitar Batu Kora, mereka pun kembali mengulang perjalanan ke Garia Tel Tel. Ditempat itu sempat berdiam beberapa waktu kemudian bertolak ke Pura Jei (pesisir pantai antara Feruni Kalar-Kalar). Disini akhirnya mereka putuskan meninggalkan Sabir Baraipuy lalu berjalan kaki menuju Jer Gar. Karena mendengar bunyi Tambaroro dari arah sebelah timur, mereka bertandang kesana yang mana lokasi itu bernama Pundi (kini desa Popjetur) sudah dihuni oleh marga Kailem. Sesampainya ditempat itu, para pendahulu Tildjuir/orang Karatem ini diminta mendirikan Bot (Rumah) disalah satu bukit. Karena orang Kailem sering berkunjung ke rumah kelompok Karatem diatas Til (bukit). Alhasilnya, kebiasaan mereka menunjuk tempat tinggal Karatem berubah dengan sebutan Tildjuir, alias orang (Djuir) yang tinggal diatas bukit, yang berkembang menjadi nama marga ini.
Lanjut cerita, marga Tildjuir ini kemudian bernomaden ke Dabor’ngopal’di yang berdekatan dengan desa Marfenfen kini. Ditempat ini sebenarnya milik marga Aparay dari Ferin (kini desa Feruni) yang diserahkan penuh ke marga Tildjuir, lantaran hasil perkawinan seorang leluhur Tildjuir dengan seorang perempuan Aparay tidak membuahkan keturunan. Dari Dabor’ngopal’di, klan Tildjuir ini berpindah membuka Masaman ke tempat MAR PEN NEI NEI KOLA yang dianggap pas untuk bercocok tanam. Disitu mereka bertemu marga Botmonamona. Karena kondisi lahan kurang nyaman, kelompok Tildjuir-Botmonamona berpindah ke MAR PEN NEI NEI IK MA TAI sampai ± Tahun 1897 seorang tetua marga bernama Larjerau Tildjuir ditugasi oleh Controiler Alekxander Johan De Qlou, memanggil marga Botmonamona, Bothmir dan Gaelagoy, bergabung di MAR PEN NEI NEI IK MA TAI membentuk kampung. Setelah ke empat marga disatukan terjadi rembuk kampung menghasilkan Larjerau Tildjuir selaku ‘yang dituakan saat itu’ ditunjuk sebagai Orang Kay (Kepala Kampung).
1.2 Sejarah Singkat Perjalanan Marga Botmonamona
Alkisah kehidupan para pendahulu marga Botmonamona bermula dari lima orang bersaudara bernama Bela’ipar, Tarupa, Garnai, Rorapui, Arbata yang berpindah dari Popjetur ke Selmalelengar bergabung bersama leluhur marga Bothmir dan leluhur marga Gaelagoy. Ditempat ini mereka berkembang biak namun karena peristiwa Fet Dem Demur menyebabkan leluhur marga Botmonamona berpindah bersama leluhur marga Gaelagoy ke Dera Sian. Sesampainya ditempat itu, lima orang leluhur Botmonamona terpikat pada suatu tempat di sebelah sungai bernama Garia Gagana milik marga Pekpekay. Mereka kemudian bertolak ke tempat itu lalu membuka kebun. Karena tanahnya subur, akhirnya kelima leluhur ini membeli wilayah Garia Gagana menggunakan 50 Sarmina (Gong), 5 Suakan (Gading Gajah) dan 2 buah Gong Cermin.
Setelah lahan Garia Gagana terbeli. Tarupa, Garnai, Rorapui, Arbata memutuskan meninggalkan Bela’ipar menjaganya sementara mereka kembali ke Popjetur dan berkembang biak menghasilkan marga Siarukin. Bela’ipar yang tinggal menyendiri itu kemudian menamai diri dan keturunannya dengan sebutan marga Botmonamona sebagai pelambangan Kakak tertua dari empat basudara yang telah berpindah.
Singkat cerita, setelah berdiam cukup lama di Garia Gagana, moyang Bela’ipar bersama anak-anaknya memutuskan bergabung diri bersama marga Tildjuir di MAR PEN NEI NEI KOLA. Ditempat ini keturunan Bela’ipar berkembang biak hingga ± Tahun 1897 mereka berpindah bersama marga Tildjuir ke MAR PEN NEI NEI IK MA TAI sesuai perintah Controiler Alekxander Johan De Qlou menyatukan kedua marga ini mengajak marga Bothmir dan marga Gaelagoy membentuk kampung dan menunjuk Larjerau Tildjuir sebagai Orang Kay.
1.3 Sejarah Singkat Perjalanan Marga Bothmir
Menurut Mitologi orang Bothmir, leluhur mereka tergabung dalam klan Mata Belang Salay yang berasal dari En ja Karan. Sewaktu peristiwa En ja Karan Ebasai para leluhurnya berlayar mencari tempat keselamatan menggunakan perahu Larsear (Lar=Layar, Sear=Daun Ser) hingga tiba di Sel Ma Leng Lengar Gudor Jurin (Ujung Batugoyang) sebentar saja. Kemudian berlayar sampai ke wilayah Gomar, turun ke darat berjalan kaki sampai ke Tafermar, lalu menyusuri pantai ke wilayah yang kini disebut desa Ngaiguli. Setibanya ditempat itu, para leluhur Bothmir berjalan ke darat hingga tiba di Pundi (kini Popjetur) bergabung bersama marga Gaelagoy, Botmonamona, Siarukin, Apalem, Mondjil, Kailem dan setelahnya itu Tildjuir.
Singkat cerita, karena para pendahulu Bothmir membangun Bot (Rumah) posisinya dibagian Mir (Belakang) dari rumah beberapa marga tersebut maka lahirlah penyebutan marga Bothmir. Lanjut kisah, leluhur Bothmir meneruskan perjalanan bersama marga Mondjil hingga menetap di Sel Malenglengar (Tempat yang kini dekat dengan Lanudal Aru). Entah apa gerangan sehingga Marga Mondjil kini bermukim di desa Ngaibor dan di desa Siya yang jelas Bothmir dan Mondjil satu keluarga. Wilayah ulayat marga Bothmir cukup luas mulai dari bagian utara Tor Dauk (Popjetur) sampai Sel Malenglengar (Marfenfen).
Hingga masa pemerintahan Alekxander Johan De Qlou ± Tahun 1897, marga Bothmir dipanggil dari petuanannya lalu bergabung bersama marga Tildjuir, marga Botmonamona, dan marga Gaelagoy membentuk kampung di MAR PEN NEI NEI IK MA TAI dan menunjuk Larjerau Tildjuir sebagai Orang Kay untuk memudahkan pembayaran pajak bagi pemerintah kolonila Belanda. Sampai pada Tahun 1930, Petrus ‘Ilpapa’ Bothmir dinobatkan sebagai Kepala Kampung karena pintar berbahasa Melayu dengan pihak pemerintah kolonial Belanda.
1.4 Sejarah Singkat Perjalanan Marga Gaelagoy
Menurut mitologi orang Gaelagoy, mereka berasal dari Babel melanjutkan perjalanan menggunakan Skit (Kapal) bersama orang Botmonamona/Siarukin hingga tiba di Detar-Tar Sian Di suatu tempat dekat dengan desa Jerol kini. Leluhur Gaelagoy ini kemudian melanjutkan perjalanan ke Pop Daetar (kini tempat yang berhadapan dengan desa Dokabarat). Singkat cerita, orang Gaelagoy sebenarnya bermarga Nabair, tetapi akibat diantara mereka ada yang mengonsumsi Penyu sehingga muncul kebiasaan istilah diwaktu itu bahwa kalau makan Penyu nanti Gaelagoy, yang berarti Gaela=Marga, Goy=Mati semua.
Lanjut kisah, berkembanglah nama marga Gaelagoy. Hingga masa pemerintahan Alekxander Johan De Qlou ± Tahun 1897, marga Gaelagoy dipanggil dari petuanannya lalu bergabung bersama marga Tildjuir, marga Botmonamona, dan marga Bothmir membentuk kampung di MAR PEN NEI NEI IK MA TAI dan menunjuk Larjerau Tildjuir sebagai Orang Kay untuk memudahkan pembayaran pajak bagi pemerintah kolonila Belanda.
Perjalanan kampung MAR FEN PINEI NEI IK MA TAI dibawah pemerintahan Orang Kay Larjerau Tildjuir sejak diangkat ± Tahun 1897 mampu mengelola harmonisasi kehidupan empat marga secara apa adanya. Tetapi pada Tahun 1930 kekuasaanya dialihkan ke Petrus Bothmir. Menurut pengisahan warga, penyerahan mandat Orang Kay kepada Petrus Bothmir, yang saat itu tengah menjabat Kepala Soa (BPD), terjadi karena beliau lebih lincah berkomunikasi bahasa Melayu dengan pihak pemerintah kolonial Belanda.
Memasuki tahun 1942 masa penjajahan Jepang. Warga keempat marga bergeser ke MALA MALA REI DI guna menghindari kekejaman tentara Nippon. Ditempat ini, Kepala Kampung Petrus Bothmir bersama masyarakat berhasil menata pemukiman kemudian mereka bersepakat mengubah nama kampung MALA MALA REI DI menjadi MARFENFEN. Nama Marfenfen merupakan kependekan penyebutan Orang/Marga yang dipanggil Controiler De Qlou dari Sungai (MAR) Sebelah (FEN PINEI NEI) ke Mala-Mala Reidi. Setelah penetapan nama kampung Marfenfen. Petrus Bothmir bersama masyarakat mengerjakan pembangunan Gereja, namun proses pekerjaan memakan waktu hingga kepemimpinan Tidores Tildjuir 17 tahun kemudian barulah bangunan Gereja rampung dan ditahbiskan dengan nama Rehoboth.